[pelatihan][twocolumns]

Do'a Abu Nawas


Mau tahu kisah konyol Abu Nawas Menipu Tuhan ?

Memang banyak sekali kisah-kisah Abu Nawas yang cukup konyol. Namun kekonyolan dan kecerdikannya  itu sering digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapainya. Tidak terkecuali dalam masalah menipu Tuhan. Salah satu cerita yang cukup populer dari Abu Nawas
Namun sebelum menuju cerita, alangkah baiknya kita mengenal dulu secara sekilas siapa sebenarnya Abu Nawas itu. 
Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Abu dilahirkan pada 145 H (747 M ) di sebuah kota Ahvaz yang ada di negeri Persia (Iran sekarang), dengan keturunan darah Arab dari Ayahnya dan Persia dari Ibunya. Abu Nawas merupakan seorang pujangga Arab dan dianggap sebagai salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah Seribu Satu Malam. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Banyak orang yang heran juga dengan salah satu kisah Abu Nawas tentang menipu Tuhan ini. Pasti timbul banyak pertanyaan di kepala mereka, Kok bisa-bisanya ya Tuhan ditipu…Padahal Tuhan itu Maha tahu segalanya, masa bisa ditipu oleh hanya seorang Abu Nawas. Sebelum kisah ini terjadi, Abu Nawas juga menjawab semua pertanyaan muridnya dengan satu jawaban yang sama.
Jadi Begini ceritanya, pada suatu hari setelah para murid Abu Nawas mulai mengerti mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan jawaban yang berbeda.Maka Murid Abu Nawas tidak segan bertanya lagi.

“Wahai kak guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?” tanya muridnya.
“Mungkin saja.” jawab Abu Nawas.
“Bagaimana bisa dan bagaimana caranya?” tanya si murid penasaran.
Dan setelah murid tersebut menanyakan dengan penuh rasa penasaran bagaimana cara membuat Tuhan tertipu dengan cerdik dan tenang nya Abu Nawas hanya menjawab
“Dengan merayuNya melalui pujian dan doa.”
Lalu murid itu meminta dengan penuh harap
“Ajarkan pujian dan doa itu padaku wahai guru.”

Ilahi lastu lil firdausi ahla, walaa aqwa ‘alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainnaka ghafiruz dzanbil ‘adhimi”
Arti doa tersebut adalah:
“Wahai Tuhanku, aku ini sama sekali tidak pantas menjadi penghuni surgaMu, tetapi aku juga tidak tahan terhadap panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah taubatku serta ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar.”

No comments:

Post a Comment